Rabu, 10 Juli 2013 0 komentar

Bagaimana Allah mengingatkan hambahnya

Bagaimana Allah mengingatkan hambahnya...

Seorang manager yang saat itu berada di lantai lima ingin
memanggil karyawan yang sedang bekerja di bawah, Setelah sang manager berkali-kali berteriak memanggil,
si pekerja tidak dapat mendengar karena fokus pada
pekerjaannya dan bisingnya alat bangunan. Sang manager terus berusaha agar si karyawan mau
menoleh ke atas, dilemparnya Rp. 10.000- yang jatuh tepat
di sebelah si karyawan.
Si karyawan hanya memungut Rp 10.000 tsb dan
melanjutkan pekerjaannya. Sang manager akhirnya melemparkan Rp 100.000 dan


berharap si karyawan mau menengadah "sebentar saja"
ke atas.
Akan tetapi si karyawan hanya lompat kegirangan karena
menemukan Rp 100.000 dan kembali asyik bekerja. Pada akhirnya sang manager melemparkan tutup pulpen
yang tepat mengenai kepala si karyawan. Merasa
kesakitan akhirnya si karyawan baru mau menoleh ke
atas dan dapat berkomunikasi dengan sang manager.


 Metafora diatas sering kali terjadi pada kehidupan kita, kia sebagai mahkluk yang penuh kekhilafan sering kali melupakan nikmat Allah, lupa bersyukur, dll.
Allah selalu ingin menyapa kita, akan tetapi kita selalu
sibuk mengurusi "dunia" kita. Kita diberi rejeki sedikit maupun banyak, sering kali kita
lupa untuk menengadah bersyukur kpd NYA Bahkan lebih sering kita tidak mau tahu dari mana
rejeki itu datang
Bahkan kita selalu bilang kita lagi "HOKI!" Yang lebih buruk lagi kita menjadi takabur dengan
rejeki milik Allah. Jadi jangan sampai kita mendapatkan lemparan "batu
kecil" yg kita sebut musibah! agar kita mau menoleh
kepada-NYA. Sungguh Allah sangat mencintai kita, marilah kita selalu
ingat untuk menoleh kepada NYA sebelum Allah
melemparkan batu kecil. 


Semoga kisah diatas memberikan kita manfaat dan lebih bijaksana dalam menjalani kehidupan...
Amin 

sumber:
http://untuk-islam.blogspot.com/2013/06/bagaimana-allah-mengigatkan-hambahnya.html
BACA SELENGKAPNYA ... - Bagaimana Allah mengingatkan hambahnya
0 komentar

Kerusakan Seni Dan Budaya Manusia

Kerusakan Seni Dan Budaya Manusia

Segala pujian Hanya Bagi Allah Tuhan semesta Alam, sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya yang selalu mengikuti jalan hidayah-Nya. Salam untuk seluruh Nabi dan Rasul-Nya.

Manusia perlu menyadari bahwa semua yang ada di segenap penjuru alam, yang dinamakan makhluq memiliki banyak kelemahan, dan salah satu kelemahan yang dimiliki adalah rusak atau mengalami proses kerusakan.

Demikian pula ciptaan Allah yang disebut Jasmani dan Rohani Manusia pun dapat mengalami proses kerusakan. Jasmani yang telah mati dapat mengalami proses pembusukan, Jasmani yang terdapat padanya rokhani juga dapat mengalami sakit dan kerusakan. Demikian pula ternyata rokhani manusia pun dapat mengalami sakit dan rusak.

Dalam setiap kurun waktu zaman, Allah SWT selalu menurunkan Nabi dan Rasul-Nya, dan pada kenyataannya merekalah yang ditugasi langsung oleh Allah untuk menjadi manusia-manusia yang dapat menyembuhkan penyakit rokhani manusia di sebuah zaman. Penyakit rokhani penyakit yang dapat menyerang seluruh level umat manusia.

Seni dan Budaya, adalah produk karya pikiran dan rasa manusia, didalam rasa dan pikiran sering terwarnai oleh dominasi nafsu. Dan bila zaman dipenuhi dengan manusia-manusia yang sakit rukhaninya, makan seni dan budaya-pun  akan terbidani oleh pikiran dan rasa yang dipenuhi dengan gejolak hawa nafsu.

Rasa atau ungkapan rokhani dan juga alam pikiran manusia dapat rusak bila telah dikalahkan oleh dominasi nafsu jahat, sehingga kemungkinan besar seni dan budaya yang dihasilkan adalah seni dan budaya yang terwarnai dengan nafsu jahat.

Manusia yang menganggap bahwa seni dan budaya dapat menjadi menyambung keakraban diantara manusia, namun bagaimana pula bila seni dan budaya tersebut adalah seni dan budaya yang  dilahirkan dengan terselip dan bersimbah dengan budaya yang kental dengan nafsu kejahatan ???

Dunia manusia, dunia yang selalu pasang surut, Akhlaq manusia kadang pasang menuju ufuk yang tinggi, diwarnai dengan ketinggian hikmah dan kearifan yang datang dari Allah SWT, Tuhan Pencipta Semesta Alam,  Tuhan Yang Maha Mulia, Tuhan Yang Maha Suci , Tuhan Yang Maha Tinggi.

Namun suatu saat juga bisa jatuh ketempat terendah , merelakan  dirinya menyatu dengan syaitan laknatullah yang selalu membujuk kepada kerendahan dan kesesatan yang dibungkus dengan tipu daya manisnya kelezatan nafsu jahat yang rendah.

Seni dan Budaya yang tumbuh dari jasmani  dan rokhani yang sedang sakit, tidak dapat dijadikan sebagai sandaran, bahwa seni dan budaya tersebut dapat meyelesaikan masalah kehidupan.

Yang benar tetap benar dan yang batil tetap saja akan menghasilkan kebatilan. Dan tidak mungkin kebatilan akan membawa keuntungan.  Namun ada sebesit sinar kebenaran yang dapat digapai oleh manusia di muka bumi yaitu dengan kembali kepada Jalan Allah SWT, jalan iman dan amal sholih, jalan Islam, jalan mendaki lagi sukar. Jalan perpahit-pahit, menyembuhkan diri dari manisnya bujukan hawa nafsu kepada keteguhan Ibadah kepada Allah SWT.

Kehidupan Rasulullah Muhammad SAW, Nabi terakhir, manusia terakhir yang ditunjuk menjadi manusia penyembuh jiwa manusia. Yang dibekali dengan mu’zizat yang dapat dipegang oleh setiap umat manusia, yaitu Kitab Suci Al-Qur’an dan hikmah As-Sunnah.

Semoga Allah menunjuki segenap manusia untuk mau kembali kepada jalan-jalan kemuliaan, jalan jalan kesucian dan ketinggian, jalan-jalan kebahagiaan di dunia dan di akherat. Dan pasti kemudian akan tumbuh dari masing-masing pribadi manusia budaya yang suci dan mulia.

Kearifan, keramahan, kesantunan, kesopanan, keadilan, kelemah-lembutan, kedisiplinan merupakan sedikit banyak ciri-ciri jiwa yang tidak sedang sakit.  Wallahu a’lam.

sumber:
http://www.mta.or.id/2013/02/21/kerusakan-seni-dan-budaya-manusia/
BACA SELENGKAPNYA ... - Kerusakan Seni Dan Budaya Manusia
0 komentar

Allah, Penjamin Rezeki kita

Allah, Penjamin Rezeki kita

Ketika anak saya lahir, hampir semua tetangga, saudara, teman dan juga kenalan-kenalan dekat saya, menjenguk mengucapkan selamat. Saya cukup bergembira dengan antusiasme mereka. Begitulah suasana di kampung. Kegotong royongan, silaturrahmi antar tetangga, alhamdulillah masih tumbuh subur tak lapuk ditelan zaman

Mereka datang mendoakan kami sekeluarga. Memberikan untaian doa kepada buah hati saya. Dan tak jarang juga yang memberikan tips-tips kepada isteri saya agar cepat sehat setelah melahirkan dengan resep-resep tradisional. Ada juga beberapa tetangga yang datang membawa buah tangan. Bentuknya macam-macam. Ada yang berupa barang-barang jenis keperluan bayi, seperti popok, bedak, sabun dan baju-baju kecil yang lucu-lucu. Dan ada juga jenis-jenis makanan, dari jajan pasar, sayur mayur, minyak goreng sampai daging ayam. Saya berterima kasih sekali dengan mereka.

Namun ada seorang tetangga yang begitu datang dan melihat buah hati saya lahir, langsung berkata. ”Jabang bayi, kenapa kau lahir di zaman susah begini? Di saat barang-barang serba mahal? Kenapa kau lahir tidak pada waktu bahan makanan sedang murah?”

Ada rasa geli, lucu, tapi juga menguras sedikit otak saya, ketika mendengar ucapan perempuan itu. Paling tidak saya jadi bertanya dengan diri sendiri, kenapa ia mengucapkan hal seperti itu? Tidak ada kata lainkah yang lebih enak didengar selain kalimat itu?

Saya tidak tahu alasannya, mengapa tetangga saya mengatakan hal seperti itu, tapi yang jelas, orang yang baru melahirkan itu banyak membutuhkan makanan bergizi, supaya bayi dan ibunya sehat. Sedangkan barang-barang jenis makanan yang bergizi nyaris semua mahal.

Akhirnya saya sedikit paham dengan kalimat dia. Dia tentu memandang latar belakang saya, yang usahanya sedang hancur terpengaruh gelombang reformasi. Perempuan itu tentu bukannya asal ngomong mengatakan hal seperti itu, karena ia melihat sehari-hari keadaan ekonomi saya. Usaha kecil-kecilan yang sudah saya rintis cukup lama nyaris tak bisa bangkit lagi. Sedang harga bahan-bahan makanan yang bergizi sudah melambung. Mungkin saja begitu. Sebab waktu itu harga beras yang masuk dalam daftar beras ‘enak’ terlalu mahal untuk ukuran saya.



Saya memang susah. Saya tak mengelak keadaan seperti itu. Seiring dengan lahirnya si buah hati, usaha saya makin sulit. Ini saya akui. Banyak rizki yang datang kepada saya, tapi bukan lewat keringat saya. Banyak teman-teman yang datang di hari-hari berikutnya membawa sesuatu yang sangat menolong keberadaan ekonomi saya.

Apapun bentuknya, dari siapapun datangnya, yang jelas itu rizki dari Allah untuk kami, terutama si buah hati yang baru lahir. Karena kata Allah, tak ada satupun mahluk yang dilahirkan ke dunia ini tanpa membawa rizki. Tentunya ini adalah keyakinan yang harus saya pegang sampai kapanpun, dalam kedaan ekonomi seperti apapun.

Dan tidak ada suatu binatang melatapun dimuka bumi, melainkan Allah lah yang memberi rizkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu, dan tempat penyimpanannya. Semua tertulis dalam kitab yang nyata. (QS Huud: 6)

Biar si perempuan tetangga saya sangat menghawatirkan rizki anak saya, tapi saya tidak. Biar reformasi tak kan kunjung ada hasilnya, saya yakin Allah tak kan berhenti memberikan rizki kepada makhlukNya.

sumber:
 http://untuk-islam.blogspot.com/2010/06/allah-penjamin-rezeki-kita.html
BACA SELENGKAPNYA ... - Allah, Penjamin Rezeki kita
Minggu, 16 Juni 2013 1 komentar

Saat Itu, Hujan… (cerpen)


Saat Itu, Hujan…
Oleh: Anin Ayu Mahmudah

Hujan, 17:30 WIB.
Namanya Vee, sudah tiga jam berlalu ia menunggu di taman ini. Sementara yang ditunggui tak juga terlihat kelopak matanya. Ia mulai resah, rok selututnya telah basah kuyub dan ia bersikeras menunggui kekasihnya disana. Tidak beranjak sama sekali. Tidak mungkin Ray berbohong, tidak, dia pasti sedang ada keperluan mendadak. Mungkin jalanan macet, atau kemungkinan-kemungkinan lain. Ray tidak pernah ingkar janji. Ia meneguhkan hatinya. Langit menghitam, senja sudah menghilang dan hujan tak kunjung reda, Vee masih menunggu. Sampai akhirnya ia menangis dan sadar, Ray tidak pernah datang.
Veronica. Orang bilang aku cantik, baik dan pintar. Tiga kata dari harga  kesempurnaan seorang wanita. Omong kosong, buat apa ketiga hal itu kalau aku tidak punya masa depan? PYAR! Ku banting keras-keras bingkai foto kami berdua, aku dan Ray. Kurang ajar! Batinku kesal. Satu tahun atas kepergiannya, satu tahun aku berusaha keras untuk percaya bahwa dia pasti kembali, satu tahun aku menderita dipermalukan keluargaku, dijauhi orang-orang disekitarku karena terlalu keras kepala untuk tetap menunggu Ray. Hari ini tepat setahun atas kepergiannya yang tak pernah kembali, dan satu tahun sudah terlalu cukup untuk membuatku sadar bahwa Ray memang takkan pernah datang lagi.
Ibuku masih marah, karena aku menolak menikah dengan Nick, yang katanya mapan, baik dan rupawan. Sedang Ray hanya laki-laki yang tidak punya masa depan. Hah, sama saja! Semua laki-laki itu brengsek!
“Vee, kamu mau jadi perawan tua? Ibu tidak habis pikir, sebenarnya apa yang sudah dilakukan laki-laki preman itu kepadamu sampai kamu bisa sebodoh ini?” kata Ibuku.
“Dia tidak melakukan apa-apa, dia tidak pernah melakukan apa-apa. Itu yang membuatku jadi sebodoh ini!” timpalku kesal. Orang-orang ini tidak tahu apa-apa.
“Veronica! Jaga ucapanmu! Kamu ini orang berpendidikan, kamu punya masa depan, bukan hidup sia-sia menunggui lelaki yang tidak jelas seperti ini!” kakakku ikut-ikutan. Oke, keluargaku memang suka berlebihan mempermasalahkan sesuatu.
“Aku sudah tidak menungguinya, kok.” Kataku simpul.
“Lalu, kenapa kamu menolak Nick? Dia lelaki baik-baik Vee,” ibuku semakin kesal.
“Karena aku membenci semua laki-laki! Karena mereka itu brengsek! Ibu tidak sadar apa yang sudah Ayah lakukan ke Ibu? Ditinggal pergi, diterlantarkan, apa bedanya?”
“Vee, tidak seperti itu,” aku Ibuku, ia menangis.
“Selalu seperti itu. Lalu Ibu bertemu pengusaha kaya itu, yang membuat hidup ibu jadi semewah ini, beli ini itu. Tapi apa Ibu sadar apa yang dilakukannya? Dia juga tidak pernah pulang, dia hanya memberi ibu uang!” kataku.
“Vee!” teriak kakakku, “Setidaknya kita bisa memperbaiki kehidupan kita.”
“Kehidupan? Apa keuangan? Maaf ya, aku bukan perempuan materialistis seperti kalian!” aku pergi ke kamarku dan menguncinya rapat-rapat. Tuhan, kalau menangis tidak pernah menyelesaikan masalah, kenapa kau beri air mata disetiap masalah? Aku harus pergi, aku tidak ingin Ibu dan kakakku menjodohkanku dengan laki-laki manapun lagi. Aku tidak mau!
Aku membenci hujan, setiap dia datang, selalu saja ada hal yang membuatku menangis. Seolah-olah memaksaku untuk ikut menyumbang airmata bersamanya. Sudah satu minggu lebih aku meninggalkan rumah mewah itu, berusaha memperbaiki kesalahan terbesarku selama ini= menunggu Ray. Aku sudah terlalu bodoh, maka aku tidak akan menjadi lebih bodoh lagi. Masa depanku ada di tanganku sendiri, bukan lelaki manapun!
Umurku 24 tahun, dengan ijazah S1 ditanganku, aku menuju rumah teman SMA ku dulu, sambil berdoa supaya dia mau memberiku pekerjaan.
“Kamarmu disini, besok sudah mulai kerja. Jam delapan malam ya, jangan telat!” katanya. Aku mengangguk dan berterimakasih pada Wina.
Keesokan harinya, aku terbangun dan mendapati diriku sendirian di rumah besar ini. Sambil mencari makanan di dapur, kulihat album SMA ku tergeletak di meja. Membukanya seperti mengingat masa laluku yang indah, yang kubuang dengan sia-sia. Sampai tiba pada wajah seseorang disana, Ken.
“Vee, mau kuliah dimana?” tanya Ken ramah.
“Di Jogja, kamu?” balasku.
“Wah, keluar kota ya? Aku disini aja, nggak kemana-mana,” katanya. “Mm...Vee, sebenarnya aku...suka sama kamu,” ungkapnya.
“Ta...tapi, aku sudah punya pacar, Ken,” jawabku jujur. “Maaf ya.”
“Oh nggak pa-pa, siapa Vee pacarmu?” tanya Ken.
“Dia bukan anak sini, lebih tua tiga tahun dariku sih, aku juga kenal dari chat. Namanya Ray,” jawabku. Ken seperti tersedak sesuatu, lalu kembali biasa saja.
“Kenapa, Ken?” tanyaku.
“Nggak pa-pa,” lalu dia pergi. Dan di acara perpisahan itu, ia tidak hadir.
Kenangan masa lalu yang ganjil itu teringat lagi, sudah cukup. Aku tidak bisa hidup terus-terusan begini. Aku harus melupakan masa-masa itu, harus ada kehidupan yang baru! Tegasku dalam hati.
#        #          #
“Vee, bangun! Ayo siap-siap,” Wina membangunkanku, aku segera mandi dan berganti baju.
“Ya ampun, Vee. Pakai baju gue ini, norak banget!” katanya tanpa basa-basi, aku terkejut, norak apanya? Aku tidak mengerti apa yang Wina pikirkan, yang jelas aku tersinggung dengan ucapannya tadi. Aku kembali ke kamar dan mengganti baju, ya ampun, ini baju apa tembelan badan? Dengan berat hati, aku memakainya.
“Win, aku risih pakainya,” akuku jujur.
“Nah, ini kan bagus,” Wina samasekali tidak menghiraukanku, dia segera menarikku menuju mobilnya dan berangkat ke ‘tempat kerja’ kami. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi saat masuk tempat itu, kakiku gemetar, dan perasaanku tidak enak.
“Win, katanya kita mau jadi pelayan kafe? Ini kok...”
“Lo bisa ngertiin bahasa manusia sekarang nggak sih, Vee. Perasaan lo SMA dulu ranking terus deh, masak kata-kata gue semalem lo nggak bisa ngerti maksudnya?” Wina sanksi. “Udah deh, nggak usah banyak protes napa,” katanya ketus. Ini beneran lo, Win? Kenapa lo bisa tiba-tiba beda banget gini? Aku mencoba untuk sabar, ku ikuti saja kata-katanya. Oke, selama aku bisa jaga diri, nggak akan terjadi apa-apa. Kalo ada cowok dateng, cuekin aja mereka! Yakinku dalam hati.
Tiga minggu sudah berlalu, dan semuanya baik-baik saja, aku mulai bisa menikmati pekerjaanku. Setidaknya, aku bisa punya uang sendiri.
“Nona, minumnya satu ya,” seorang laki-laki seumuranku datang sambil tersenyum, aku hanya membalas senyumnya seadanya lalu memberinya minum.
“Nona orang baru ya? Kok baru lihat,” katanya, aku mengangguk. “Tarif berapa, Non?” tanyanya, kupingku memanas. Aku tahu betul apa maksud laki-laki ini. Aku menatapnya tajam.
“Saya nggak pasang tarif, saya nggak dijual,” jawabku tegas. Pria itu tersentak, terlihat di sebelah sana teman-temannya mentertawakannya, tanpa berkata apa-apa lagi ia segera pergi meninggalkanku.
Sudah larut, dan dan aku samasekali belum melihat Wina malam ini, kemana dia? Pikirku curiga. Sambil menenteng tasku, aku pun keluar dan menunggu taksi.
SRET!
“Hey! Kembalikan tasku!” teriakku kaget.
“Bayar dulu semalam,” katanya santai, ini kan pria yang tadi, brengsek! Dia tertawa.
“Kenapa harus aku sih?” tanyaku sanksi.
“Karena gue maunya elo, nggak usah banyak tanya deh!” dia menarikku paksa, kulihat Wina di pinggir jalan bersama seorang lelaki, aku memanggilnya meminta tolong. Dia melihatku, jelas-jelas dia melihatku, tapi dia hanya diam. Perempuan  jalang! Aku melawannya sekuat tenaga, nafasku tinggal satu dua, dan aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Hujan tiba-tiba turun deras, kakiku yang terluka terasa perih, apalagi hatiku. Tuhan, lihat aku! Aku menangis lagi, dan tidak ada siapapun yang menolongku. Harus berapa kali lagi aku menderia? Aku sudah kehilangan kekasihku, apa aku harus kehilangan harga diriku juga?Tuhan, tolong…
Aku menangis, meminta tolong, seseorang membekap mulutku. Tiba-tiba tubuhku lemas, jantungku berhenti berdetak. Lelaki itu…dia yang membekap mulutku itu…
“RAY!” pekikku keras, dia salah tingkah.
“Lo kenal dia, Ray? Hahaha,” pria itu mentertawakannya. “Selera lo tinggi juga.” Ray hanya diam, aku berharap dia segera menarikku dari sini, segera menolongku.
“Tidak,” jawabnya singkat.
“Ray? Kamu…” aku menangis, hatiku sakit, sangat sakit. Dalam hatiku bertanya,” Bagaimana rasanya, saat kau tengah menderita, kehilangan, tapi tiba-tiba orang yang kau cari datang dan memperlakukanmu seperti binatang? Bahkan ia bilang tidak mengenalimu samasekali?” Tuhan, apa kau tahu perasaanku saat ini?
“WOY!” tiba-tiba segerombolan orang datang, Ray dan temannya berlari dan orang-orang itu mengejar. Aku terduduk sendirian, memeluk lututku sendiri sambil menangis.
“Vee,” seseorang memanggilku, aku tidak mengiraukannya.
“Mau sampai kapan disini?” tanyanya lagi. Hujan turun deras, aku sudah basah kuyub. “Vee…”
“Siapa sih lo?” teriakku tanpa menoleh, “Mau apa lo? Lo sama aja, kan kayak mereka? Semua cowok itu brengsek!” kataku ketus.
“Lo nggak kenal gue?” dia balik bertanya. Aku membalikkan badan. Airmataku semakin deras, hujan pun semakin ganas mencurahkan airnya dari langit.
“K..Ken?” kataku terbata-bata, lidahku kelu. Aku terisak, nafasku naik-turun.
“Udah…” dia menarikku ke bahunya, dan kali ini aku merasa aman. Dia membiarkanku menangis, hujan masih turun, Ken memelukku lama.
#        #          #
“Makan, Vee,” ajak Ken.
“Ken, maaf ya,” kataku tiba-tiba.
“Untuk?”
“Aku emang bodoh, nggak bisa mbedain mana cowok brengsek mana cowok baik-baik, seandainya dulu aku…”
“Ssstt, kata ‘seandainya’ itu kata paling menyakitkan, jadi jangan ucapkan, oke?” aku mengangguk, dan kami pun makan.
“Kenapa kamu nggak dateng di acara perpisahan dulu?” tanyaku.
“Mm…ayahku pindah tugas, aku harus ikut,” katanya, aku hanya mengangguk.
#        #          #
Dua hari berlalu, bahkan Ken rela tidur di sofa dan merelakan tempat tidurnya untukku. Aku harus membalas kebaikannya.
“Vee, aku harus ke Jakarta, ayahku butuh bantuan disana. Kalau boleh, kau yang jaga rumah ini ya?” katanya.
“Tentu saja boleh, aku kan berhutang banyak padamu,” jawabku.
“Mm…Vee, mungkin ini terlalu cepat, tapi aku juga berpikir mau sampai kapan lagi. Jadi, apa…kau mau…menikah denganku?” tanyanya.
“Ken…”
“Terlalu cepat ya, maaf Vee.”
“Aku…tidak mau menolaknya,” kataku yakin. Ken tersenyum lebar.
“Baiklah, berarti memang tugasmu membereskan rumah ini, kan?” dia tertawa.
“Siap bos!” aku memberi hormat. Tuhan, kau baik sekali hari ini. Aku membantu Ken membereskan barang-barangnya ke Jakarta. Sore itu dia berangkat, aku melambaikan tanganku dari depan rumah. Dulu aku berharap Ken sekarang adalah Ray, tapi sekarang, aku menyesal karena pernah berharap seperti itu.
#        #          #
Tiga hari berlalu, hari ini Ken pulang bersama ayahnya. Hatiku gugup, sekaligus senang. Sudah jam lima sore, seharusnya Ken sudah datang. Hujan turun deras, kenapa harus hujan? Batinku kesal. Aku mencoba menghubungi ponselnya.
“Halo,” sapaku. “Ken, kamu sampai man…”
Hujan, 17:30 WIB.
Bajuku basah kuyub, aku berlari sekuat tenaga. Semuanya akan baik-baik saja, Vee. Semuanya baik-baik saja.
Namaku Vee, dan sudah tiga puluh menit aku menunggu seseorang di ruang tunggu. Hatiku sangat cemas, perasaanku kacau. Setengah jam berlalu, akhirnya dia keluar.
“Bagaimana, dok?” pria berbaju putih itu menggeleng pelan, “Dokter! Jawab saya! Bagaimana keadaannya?” tanyaku lagi.
“Dia meninggal.” Tubuhku lemas, baru kemarin aku bertemu dengannya, baru kemarin dia bilang kita akan menikah, dan kenapa hujan harus turun disaat semua harapan itu akan terwujud?
“Maafkan saya, Nona.”
“Kami baru akan menikah, dok,” aku sudah tidak sanggup menahan tangis, hatiku sakit, tidak pernah sesakit ini. Tuhan, kenapa kau biarkan aku kehilangan…lagi?
Saya turut berduka cita, Nona. Ini tas tuan Ken, saya serahkan pada nona.” Aku membuka tasnya dengan lemas, semuanya berakhir. Hidupku berakhir sudah. Aku menemukan sesuatu, sebuah surat.
Seharusnya aku jujur padamu, Vee. Aku minta maaf ya sebelumnya. Begini. Aku kenal Ray, dia kakak tiriku. Ibuku meninggal dan ayaku menikah dengan seorang wanita, ibu Ray. Awalnya baik-baik saja, tapi lama-lama aku tahu busuknya keluarga mereka. Ibunya cuma perempuan matre dan Ray cuma anak kurang ajar. Akhirnya ayahku bangkrut dan semua harta menjadi milik mereka, hari perpisahan itu, ayahku memutuskan untuk bekerja pada teman dekatnya, di Jogja.
Aku membantunya, mewujudkan keinginan ayahku untuk mengembalikan rumah kita. Rumah ayah dan ibuku yang dulu mereka bangun bersama, dari nol. Waktu itu aku kaget bukan karena kau sudah punya pacar. Tapi karena pacarmu bernama Ray. Tapi aku berusaha berpikir positif bahwa Ray di dunia ini tidak hanya satu, sampai akhirnya aku tahu, bahwa itu memang benar-benar Ray. Aku memutuskan diam, kau kelihatan bahagia Vee waktu itu, dan aku tidak berhak mengusiknya.
Sampai suatu malam aku melihatmu masuk ke bar itu, aku khawatir, jadi setiap malam aku menungguimu di halte bus itu untuk memastikan bahwa kau baik-baik saja, hingga malam kemarin aku tidak datang. Maaf Vee aku membiarkanmu lama menangis, meminta bantuan tanpa seorang pun yang datang menolong. Tapi hatiku memaksaku untuk datang lagi, dan melihatmu seperti itu rasanya hatiku tidak terima, kukumpulkan massa biar orang-orang macam Ray dapat hukumannya.
Aku senang bisa bertemu denganmu lagi. Oya, kau ingat kalung ini kan? Katamu ini kalung keberuntunganmu? Kenapa kau berikan pada Ray? Dia bahkan tidak pernah memakainya. Kau berhak atas keberuntunganmu, semoga harimu semakin baik, Vee. Pulanglah, keluargamu menunggumu kan? Ingat ya, cintailah keluarga kita, apapun keadaannya :) -Ken-

Entah apa yang tuhan rencanakan, tapi aku tidak akan memarahinya lagi. Aku akan menerimanya, menyenangkan ataupun menyakitkan. Aku tidak membenci hujan, dia baik sekali menemaniku menangis. Saat itu, hujan. Aku sengaja duduk di halte tepat seperti kau menungguiku pulang, membiarkan air hujan ikut mengikis air mataku. Membiarkan semua kenangan-kenangan itu berlalu malam ini. Untuk terakhir kalinya. Besok kau akan dimakamkan, aku janji pemakamanmu besok, hari akan cerah. Saat itu, tidak akan ada hujan.


Data Penulis:
  • Nama: Anin Ayu Mahmudah
  • Alamat: Mojosari RT 02 RW 07 Ketitang, Nogosari, Boyolali 57378
  • Ttl: Boyolali, 22 Desember 1995       
BACA SELENGKAPNYA ... - Saat Itu, Hujan… (cerpen)
0 komentar

Tentang Ayah

 
Tentang Ayah
Buah Pena: Anin Ayu Mahmudah
(14 Februari 2013)
Suatu waktu...
Saat tangan itu membelai lembut hadirku
Senyum itu terkembang, memenuhi hatinya yang mengharu
Seakan bertemu dengan sosok yang telah lama ia tunggu
Dia hanya terus tersenyum, menimangku
Memanjatkan beribu do’a,
Untuk aku, putrinya
Suatu masa...
Saat kaki kecil ini mulai menapaki tanah
Sosoknya merengkuhku pada tiap jalan aku melangkah
Walau seringkali aku terjatuh, tak berdaya
Walau seringkali aku sibuk sendiri, tanpa menghiraukannya
Satu hal yang selalu kutahu, ia tak pernah marah.
Tentang Ayah...
Dialah sosok yang selalu datang
Ketika tak ada lagi malaikat yang mampu
Untuk sekedar memberikan kesabarannya padaku
Ketika tak ada lagi kata yang sanggup
Untuk sekedar memberi nasehatnya padaku
Tentang Ayah...
Dia yang selalu berkorban peluh demi peluh
Hanya untuk sekeping logam, menghidupi anak istrinya
Dia yang selalu berjuang darah demi darah
Hanya untuk membuat kami tersenyum bahagia
Kala itu, aku mulai beranjak dewasa
Tak pernah ada satu luka pun yang kau torehkan
Tak pernah ada satu pinta pun yang kau ucap
Padaku...
Atau aku yang terlalu bodoh dan tak pernah menyadarinya
Atau aku yang terlalu egois dan tak mau merasa,
Mendengarkan sedikit saja ucapannya
Malam itu, satu permintaan terucap dari lisanmu
Tapi aku terlalu naif, hingga tak mendengarkannya
Tak menghiraukannya...
Tahun berganti tahun, masa berganti masa
Saat aku menyadari, kini kau telah semakin renta
Kau tak lagi gagah, tak seperti sedia kala
Peluh yang mengucur deras kala itu,
Berganti dengan do’a-do’a yang terucap semakin yakin, dan semakin pelan
Darah yang mengalir penuh pengorbanan kala itu,
Berganti dengan tasbih-tasbih yang terucap tertahan
Raga ini terlalu bodoh hingga tak pernah membuatmu bangga
Hati ini terlalu keras hingga tak jarang membuatmu terluka
Hari itu, saat langit menangisi dunia
Membiarkan bumi basah, berderai air mata
Kau meringkuk di dalam doa dan tasbihmu
Kau memanggil namaku dengan payah
Aku berjalan mendekat, duduk bersimpuh menunggu kata
Malam itu, saat langit berhenti menangis
Dan bumi tak lagi berderai air mata
Kau berucap pelan, nafasmu satu dua
Jantungku berdegup lebih cepat, tanpa tahu mengapa
Tiba-tiba tubuhmu terjatuh, jatuh dalam pelukanku
Tapi pelukan itu seakan tak lagi berarti
Mengingat aku tak lagi berkesempatan memenuhinya,
Memenuhi permintaanmu itu
Pagi telah tiba...
Langit berduka, tapi tak menangis
Bumi masih berdoa, tapi tak bersuara
Aku hanya termangu berdiam diri di sudut ruangan
Melihatmu yang kini telah terbujur kaku
Menatap sosokmu yang berlalu begitu saja
Tentang Ayah...
Yang tak mampu lagi kupeluk tubuh ringkihnya
Yang tak mampu lagi kubuat ia bangga
Yang tak mampu lagi kuhapuskan luka di hatinya
Tentang Ayah...
Hari itu adalah perpisahan
Aku hanya mampu berucap maaf dengan pelan
Maaf, maaf, dan maaf
Tentang Ayah...
Ketika tinggal do’a yang bisa kuberikan
Ketika waktu telah berakhir atas kita
Aku tersungkur, berdoa dalam diam
Untuknya seorang
Ayahku sayang...





Data Diri:
  • Nama: Anin Ayu Mahmudah
  • Alamat: Mojosari RT 02 RW 07 Ketitang, Nogosari, Boyolali 57378
  • Ttl: Boyolali, 22 Desember 1995       
BACA SELENGKAPNYA ... - Tentang Ayah
.:: Mengertikah bahwa hati adalah penawar? jika ia teracuni tidakkah tubuhmu akan terancam? jagalah ia sekalipun hal itu tak mudah. Berprinsip untuk 'menjaga hati', berusaha menjadi baik supaya mendapatkan yang baik pula::. ||




Ingin Karya Anda Go Inernasional, Tampilkan Disini!!! GRATIS!!!




bagi anda yang ingin menampilkan karya anda yang berupa tulisan, bisa artikel, cerpen, novel, puisi, dll. bisa dikirim melalui email kami di ukirkata.publikasi@gmail.com. Tak perlu ragu jika karya anda kurang bagus. Kami akan menghargai karya anda.
jangan lupa lengkapi data diri anda (Nama Lengkap, Tempat Tanggal Lahir, dan Alamat)










Langganan Email

Anda Pengunjung ke:

Popular Posts

Mutiara Islam

 
;